BAB 1
PANDAHULUAN
Rasa keingintahuan manusia ternyata menjadi titik-titik perjalanan manusia yang takkan pernah usai. Proses berfilsafat adalah titik awal sejarah perkembangan pemikiran manusia dimana manusia berusaha untuk mengorek, merinci dan melakukan pembuktian-pembuktian. Masyarakat modern telah berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih untuk mengatasi berbagai masalah hidupnya, namun pada sisi lain ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut tidak mampu menumbuhkan moralitas (ahlak) yang mulia.
A. Latar Belakang Masalah
Ingin mengetahui hubungan antara Filasafat, pegetahuan, ilmu dan teknologi yang pada hakikatnya adalah satu kesatuan yang saling berhubungan. Yang lahir dan berkembang karena keingintahuan manusia terhadap masalah apa yang ingin mereka pecahkan guna membebaskan manusia dari keterbatasan.
B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan tentang Ontologi, Epistemologi, dan Oksiologi Filsafat, Pengetahuan, Ilmu, dan Teknologi?
2. Jelaskan hubungan antara Filsafat, Pengetahuan,Ilmu dan Teknologi.
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui dan memahami tentang Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Filsafat, Pengetahuan, Ilmu, dan Teknologi.
2. Mengetahui dan memahami adanya hubungan antara Filsafat, pengetahuan dan Teknologi.
BAB II
PEMBAHASAN
HUBUNGAN FILSAFAT, PENGETAHUAN,
ILMU, DAN TEKNOLOGI
A. Filsafat, Pengetahuan, Ilmu, dan Teknologi
Filsafat
1. Ontologi Filsafat
a. Pengertian Filsafat
Pengertia filsafat menurut bahasa atau harfiah adalah sebagai berikut kata Filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab falsafah, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut "filsuf".
Namun secara maknawi filsafat adalah pengetahuan yang mempelajari sebab-sebab yang pertama atau prinsip-prinsip yang tertinggi dari segala sesuatu yang dicapai oleh akal budi manusia.
b. Objek kajian Filsafat
Dari defenisi diatas yang menjadi objek materilnya (lapangannya) ialah segala sesuatu yang dipermasalahkan filsafat.
Sedangkan objek formalnya (sudut pandang nya) ialah mencapai sebab-sebab yang terdalam dari segala sesuatu, sampai kepada penyebab yang tidak disebabkan, ada yang mutlak ada, yaitu penyebab pertama (causa prima) ialah Allah SWT itu sendiri.
c. Ruang lingkup atau Bidang kajian Filsafat
Selanjutnya yang menjadi bidang kajian pokok filsafat atau cabang-cabang pokok filsafat ialah:
1. Logika
Adalah filsafat tentang pikiran atau penalaran atau cara berpikir benar dan salah.
2. Etika (Ethis) : Filsafat moral/Kesusilaan
Memepelajari pola tingkah laku yang dinilai baik (ma’ruf) dan bururk/keji (mungkar). Dari sisni timbullah pembicaraan tentang pola hidup bersama yang baik atau buruk yang disebut Etika Sosial.
3. Estetika
Mempelajari pola cita-rasa manusia yang dinilai indah (estetis) dan jelek. Muncullah pendapat, di Timur umumnya berpendapat: “ seni untuk masyarakat” (hablum minannas) yang pada stadium terakhir seni untuk kearah transcendental, mengejar keridhaan Allah ( hablum minallah).
4. Metafisika atau Ontologi: Filsafat tentang “ada”
Mempelajari tentang:
• Apakah arti “ada” itu?
• Apakah hakikat keberadaan zat dan pikiran serta kaitan dari keduanya?
• Apakah kesempurnaan “ada” itu?
• Apakh tujuan “apa” itu?
• Apakah yang disebut sebab dan akibat (kausalitas) itu?
• Apakah yang merupakan dasar yang terdalam dari setiap barang yang ada itu?
5. Kosmologi (Philosophy of Nature/ Cosmology): filsafat tentang alam atau dunia materiil
Mempelajari tentang asal mula alam semesta, sumber dan susunan atau struktur dari alam semesta.
6. Antropologi Metafisika/filsafat Antropologi/Psikologi Metafisika: filsafat manusia
Mempelajari tentang hakikat keberadaan/kehadiran manusia di dunia.
7. Theodycea (Nature Teologi): Filsafat tantang Tuhan
Hal ini merupakan konsekuensi terakhir dari seluruh pandangan filsafat. Manusia bukan lah hal yang mutlak, oleh karena itu haruslah dicari sumber yang terdalam dan sebab yang terakhir yang mengatasi manusia sendiri dan dunianya, hingga kita sampai kepada Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Sempurna, Yang Maha Esa, Yang Maha Benar, dan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
d. Aspek-Aspek Yang Dipelajari Filsafat
1. Filsafat tentang berbagai disiplin ilmu
Karena banyaknya pertanyaan yang diajukan pada berbagai bidang ilmu pengetahuantelah melampaui kompetensi bidang itu sendiri dan harus dimintakan jawabannya kepada filsafat, maka lahirlah filsafat khusus tentang berbagai disiplin ilmu pengetahuan
2. Filsafat politik
Filsafat politik merupakan salah satu cabang filsafat yang tertua. Filsafat politik adalah refleksi mengenai masalah-masalah social politik yang dapat di bedakan menjadi dua bagian pembahasan yang berkaitan erat. Yang pertama mempersoalkan hakikat, sedangkan yang kedua fungsi dan tujuan negara, dan pemerintahan.
3.Filsafat Hukum
Filsafat hukum adalag refleksi filsafati mengenai masalah-masalah hukum. Yang dipersoalkan ialah apakah sebenarnya hukum itu; apakah hakikat hukum; apa dan bagaimana sifat hukum itu; apakah fungsi hukum itu;mengapa manusia harus takluk kepada hukum.
4. Filsafat Agama
Filsafat agama sebenarnya berarti pemikiran filsafati tentang agama. Dapat pula dikatakan bahwa filsafat agama adalah pemikiran kritis analitis tentang agama. Yang hendak dianalisis oleh filsafat agama ialah hakikat agama itu sendiri, yakni pengalaman-pengalaman religious manusia. Dengan demikian, jelas bahwa agama tidak menganalisis isi kepercayaan iman, melainkan pertanyaan apakah hakikat iman. Selain itu juga menganalisis dan berupaya menjelaskan fenomena agama, terutama hakikat hubungan manusia dengan Allah SWT.
5. Filsafat Pendidikan
Filsafat pendidikan ialah pemikiran-pemikiran filsafati tentang pendidikan. Filsafat tentang proses pendidikan bersangkut-paut dengan cita-cit, bentuk, metode, atau hasil dari proses pendidikan.
6. Filsafat Sejarah
Pembahasan filsafat sejarah mengikuti dua alur yang berbeda. Alur pertama berupaya untuk memendang proses sejarah secara menyeluruh, baru kemudian mencoba menafsirkannya sedemikian rupa untuk memahami arti dan makna serta tujuan sejarah. Alur yang pertama ialah filsafat sejarah spekulatif. Alur kedua tidak memandang kepada proses sejarah secara menyeluruh, melainkan justru memikirkan masalah-masalah pokok menyelidiki sejarah itu sendiri, cara dan metode yang digunakan oleh sejarawan, dan sebagainya. Filsafat sejarah yang kedua disebut filsafat sejarah kritis.
7. Filsafat Bahasa
Filsafat bahasa yang berkembang dewasa ini sering pula disebut sebagai filsafat analitik. Pelopornya adalah George Edward Moore (1873-1959), filsuf Inggris. Menurut Moore, tugas filsafat ialah member penjelasan dan keterangan terhadap konsep atau gagasan lewat analisis yang berdasar pada akal sehat (common sence). Menurut Bertrand Russell, bahasa yang benar adalah deskripsi dari suatu realitas. Dengan menyelidiki unsure-unsur paling kecil dari bahasa.
8. Filsafat Matematika
Matematika telah dikenal di Mesir sebagai alat yang sangat berguna untuk memecahkan berbagai persoalan dan masalah praktis. Rumus-rumus matematika juga digunakan untuk konstruksi, penyusunan kalender, dan perhitungan dalam perniagaan. Filsuf-filsuf besar Yunani yang mengembangkan matematika ialah Pythagoras dan Plato.
2. Epistemologi Filsafat
Cara Memeperoleh Pengetahuan Filsafat
Pertama-tama filosof harus membicarakan (mempertanggung-jawabkan)cara mereka memperoleh pengetahuan filsafat. Yang menyebabkan kita hormat pada filosof antara lain karena ketelitian mereka, sebelum mencari pengetahuan mereka membicarakan lebih dahulu (dan mempertanggungjawabkan) cara memperoleh pengetahuan tersebut.
Berfilsafat adalah berfikir. Berfikir itu tentu menggunakan akal. Menjadi persoalan, apa sebenarnya akal itu? Akal atau rasio merupakan fungsi dari organ yang secara fisik bertempat di dalam kepala, yakni otak. Akal mampu menambal kekurangan yang ada pada indera. Akallah yang bisa memastikan bahwa pensil dalam air itu tetap lurus, dan bentuk bulan tetap bulat walaupun tampaknya sabit. Keunggulan akal yang paling utama adalah kemampuannya menangkap esensi atau hakikat dari sesuatu, tanpa terikat pada fakta-fakta khusus.
Akal mengetahui sesuatu tidak secara langsung, melainkan lewat kategori-kategori atau ide yang inheren dalam akal dan diyakini bersifat bawaan. Ketika kita memikirkan sesuatu, penangkapan akal atas sesuatu itu selalu sudah dibingkai oleh kategori. Kategori-kategori itu antara lain substansi, kuantitas, kualitas, relasi, waktu, tempat, dan keadaan. Sejak Descartes (1596-1650), tokoh pertama Filsafat Modern, akal mendominasi filsafat.
Banyak pendapat para filosof tentang bagaimana akal berpikir. Tetapi baik lah kita terima saja bahwa akal itu ada dan ia bekerja berdasarkan suatu cara yang tidak begitu kita kenal. Aturan kerjanya di sebut Logika. Sejauh akal itu bekerja menurut aturan Logika, agaknya kita dapat menerima kebenarannya.
Bagaimana manusia mendapatkan pengetahuan filsafat? Dengan berpikir secara mendalam, tentang sesuatu yang abstrak. Mungkin juga objek pemikirannya sesuatu yang konkret, tetapi yang hendak diketahuinya ialah bagian “di belakang” objek konkret itu.
Seperti dikatakan diatas Sain mengetahui sebatas fakta empiris. Ini tidak mendalam. Filsafat ingin mengetahui di belakang sesuatu yang empiris itu. Akal lah yang melahirkan apa yang disebut filsafat.
3. Aksiologi Filsafat
1. Peranan Filsafat
a. Pendobrak
Kehadiran filsafat telah mendobrak pintu-pintu dan tembok-tembok tradisi yang begitu sacral dan selama itu tak boleh di ganggu-gugat. Kendati membutuhkan waktu yang cukup lama kenyataannya sejarah telah membuktikan bahwa filsafat benar-benar telah berperan selaku pendobrak tradisi yang menindas sesame manusia yang mencengangkan.
b. Pembebas
Filsafat membebaskan manusia dari ketidak tahuan dan kebodohannya. Filsafat juga membebaskan manusia dari bepikir mistis dan mitis.
c. Pembimbing
Filsafat membebaskan manusia dari cara berpikir yang tak utuh dan begitu fragmentaris dengan membimbing manusia untuk berpikir secara integral dan koheren.
Dengan melihat pendapat para filosof, kita dapat menyimpulkann 4 (empat) tujuan umum pelajaran filsafat, yaitu:
1.Dengan berfilsafat kita lebih memanusiakan diri, lebih mendidik dan membangun diri sendiri.
2. Dapat mempertahankan sikap yang objektif dan mendasarkan pendapat atas pengetahuan yang objektif, tidak hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan simpati dan antipasti saja.
3. Mengajar dan melatih kita memandang dengan luas. Jadi, menyembuhkan kita dari “Aku-Isme” dan” Aku-sentrisme”, hanya mementingkan “Aku-nya” saja, yang dapat merugikan perkembangan manusia seutuhnya.
4. Diharapkan kita menjadi orang yang dapat berpikir sendiri, tidak menjadi yes-man atau yes-woman. Kita akn menjadi orang yang sungguh-sungguh mandiri, terutama dalam lapangan kerohanian dan menyempurnakan cara kita berpikir, dan memiliki sifat kritis.
2. Kegunaan Filsafat
Untuk mengetahui kegunaan filsafat kita dapat memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, pertama filsafat sebagai kumpulan teori filsafat, kedua filsafat sebagai metode pemecahan masalah, ketiga filsafat sebagai pandangan hidup (philosophy of life).
a. Kegunaan Teoritis Filsafat
1. Kegunaan filsafat bagi Aqidah
2. Kegunaan filsafat bagi hukum Islami
3. Kegunaan filsafat bagi Bahasa, dll.
b. Kegunaan Praktis Filsafat
Kegunaan filsafat ialah sebagai metode dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah bahkan sebagai metode dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah bahkan sebagai metode dalam memandang dunia.
Kendati tidak member petunjuk praktis tentang bagaimana banguana yang artistik dan elok, filsafat sanggup membantu manusia edengan memberikan pemahaman tentang apa itu artistik dan elok dalam kearsitekturan sehingga nilai keindahan yang diperoleh lewat pemahaman ini akan menjadi patokan utama bagi pelaksanaan pekerjaan pembangunan tersebut.
Filsafat mengiring manusia ke pengertian yang terang dan pemahaman yang jelas. Kemudian, filsafat itu juga menumenuntun manusia ke tindakan dan perbuatan yang konkret berdasarkan pengertian yang terang dan pemahaman yang jelas.
Pengetahuan
1. Ontologi Pengetahuan
a. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang hadir dan terwujud dalam jiwa dan pikiran seseorang dikarenakan adanya reaksi, persentuhan, dan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitarnya. Pengetahuan ini meliputi emosi, tradisi, keterampilan, informasi, akidah, dan pikiran-pikiran.
b. Objek Kajian Pengetahuan
Objek kajian pengetahuan adalah sesuatu yang ihwalnya kita ketahuiatau hendak kita ketahui.
c. Ruang Lingkup Pengetahuan
1. Pengetahuan Biasa (ordinary knowledge). Pengetahuan ini terdiri dari pengetahuan nir-ilmiah dan pengetahuan pra-ilmiah. Pengetahuan nir-ilmiah adalah hasil penyerapan dari indera terhadap objek tertentu yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan termasuk pula pengetahuan intuitif. Pengetahuan pra-ilmiah adalah hasil penyerapan indrawi dan pengetahuan yang merupakan hasil pemikiran rasional yang tersedia untuk di uji lebih lanjut kebenarannyadengan menggunakan metode-metode ilmiah.
2. Pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang diperoleh lewat penggunaan metode-metode ilmiah yang lebih menjamin kepastian kebenaran yang dicapai, yang lebih dikenal dengan science.
3. Pengetahuan filsafati (philosophical knowledge). Yang diperoleh lewat pemikiran rasional yang didasarkan pada pemahaman, penafsiran, spekulasi, penilaian kritis, dan pemikiran-pemikiran yang logis, analitis, dan sistematis. Pengetahuan filsafati adalah pengetahuan yang berkaitan dengan hakikat, prinsip, dan asas dari seluruh realitas yang dipersoalkan selaku objek yang hendak diketahui.
d. Aspek-Aspek yang Dipelajari
Ada tiga aspek yang membedakan satu pengetahuan dengan pengetahuan lainnya, yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
1) Ontologi adalah pembahasan tentang hakekat pengetahuan. Ontologi membahas pertanyaan-pertanyaan semacam ini: Objek apa yang ditelaah pengetahuan? Adakah objek tersebut? Bagaimana wujud hakikinya? Dapatkah objek tersebut diketahui oleh manusia, dan bagaimana caranya?
2) Epistemologi adalah pembahasan mengenai metode yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan. Epistemologi membahas pertanyaan-pertanyaan seperti: bagaimana proses yang memungkinkan diperolehnya suatu pengetahuan? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Lalu benar itu sendiri apa? Kriterianya apa saja?
3) Aksiologi. adalah pembahasan mengenai nilai moral pengetahuan. Aksiologi menjawab pertanyaan-pertanyaan model begini: untuk apa pengetahuan itu digunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan pengetahuan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara metode pengetahuan dengan norma-norma moral/profesional?
2. Epistemologi Pengetahuan
Dalam memperoleh pengetahuan ada tiga hal yang dapat dijadikan sumber, yaitu:
1) Indera
Indera digunakan untuk berhubungan dengan dunia fisik atau lingkungan di sekitar kita. Pengetahuan lewat indera disebut juga pengalaman, sifatnya empiris dan terukur. Kecenderungan yang berlebih kepada alat indera sebagai sumber pengetahuan yang utama, atau bahkan satu-satunya sumber pengetahuan, menghasilkan aliran yang disebut empirisisme, dengan pelopornya John Locke (1632-1714) dan David Hume dari Inggris. Mengenai kesahihan pengetahuan jenis ini, seorang empirisis sejati akan mengatakan indera adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya, dan pengetahuan inderawi adalah satu-satunya pengetahuan yang benar.
2. Akal
Pengetahuan yang diperoleh dengan akal bersifat rasional, logis, atau masuk akal. Pengutamaan akal di atas sumber-sumber pengetahuan lainnya, atau keyakinan bahwa akal adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang benar, disebut aliran rasionalisme, dengan pelopornya Rene Descartes (1596-1650) dari Prancis. Seorang rasionalis umumnya mencela pengetahuan yang diperoleh lewat indera sebagai semu, palsu, dan menipu.
3. Hati atau Intuisi
Intuisi disebut juga ilham atau inspirasi. Meskipun pengetahuan intuisi hadir begitu saja secara tiba-tiba, namun tampaknya ia tidak jatuh ke sembarang orang, melainkan hanya kepada orang yang sebelumnya sudah berpikir keras mengenai suatu masalah.
Hati bekerja pada wilayah yang tidak bisa dijangkau oleh akal, yakni pengalaman emosional dan spiritual. Kelemahan akal ialah terpagari oleh kategori-kategori sehingga hal ini, menurut Immanuel Kant (1724-1804), membuat akal tidak pernah bisa sampai pada pengetahuan langsung tentang sesuatu sebagaimana adanya (das ding an sich) atau noumena. Akal hanya bisa menangkap yang tampak dari benda itu (fenoumena), sementara hati bisa mengalami sesuatu secara langsung tanpa terhalang oleh apapun, tanpa ada jarak antara subjek dan objek.
Selain itu, ada sumber pengetahuan lain yang disebut wahyu. Wahyu adalah pemberitahuan langsung dari Tuhan kepada manusia dan mewujudkan dirinya dalam kitab suci agama. Namun sebagian pemikir Muslim ada yang menyamakan wahyu dengan intuisi, dalam pengertian wahyu sebagai jenis intuisi pada tingkat yang paling tinggi, dan hanya nabi yang bisa memerolehnya.
3. Aksiologi Pengetahuan
Manfaat atau kegunaan dari pengetahuan adalah untuk mencapai suatu kebenaran dari sebuah hipotesis-hipotesis berfilsafat. Pengetahuan berkaitan erat dengan kebenaran sehinggan pengetahuan bisa tetap eksis. Kebenaran ialah kesesuaian pengetahuan dengan objeknya. Ketidaksesuaian pengetahuan dengan objeknya disebut kekeliruan. Dan pengetahuan menghindari hal tersebut karena ilmu pengetahuan haruslah rasional.
Suatu objek yang ingin diketahui memiliki begitu banyak aspek yang amat sulit diungkapkan secara serentak. Kenyataannya manusia hanya mengetahui beberapa aspekdari suatu objek itu, sedangkan yang lain-lainnya tetap tersembunyi baginya. Dengan demikian jelas bahwa amat sulit untuk mencapai kebenaran yang lengkap dari objek tertentu, apalagi mencapai seluruh kebenaran dari segala sesuatu yang dapat dijadikan objek pengetahuan.
Ilmu
1. Ontologi Ilmu
a. Pengertian ilmu
Ilmu atau Sains adalah pengetahuan yang tertata (any organized knowledge) secara sistematis dan diperoleh melalui metode ilmiah (scientific method). Sains memelajari segala sesuatu sepanjang masih berada dalam lingkup pengalaman empiris manusia.
b. Objek Kajian Ilmu
Di dalam buku-buku ilmu pengetahuan, objek dan sudut pandangan itu telah memperoleh nama yang tetap. Jadi, objek ilmu dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Objek Material (material object), yaitu objek/lapangan yang dilihat secara keseluruhannya (manusia, hewan, alam, dan sebagainya). Objek material terbatas jumlahnya dan satu atau lebih sains bisa memiliki objek material yang sama.
2. Objek Formal (formal object), yaitu objek/lapangan jika dipandang dari suetu aspek/sudut tertentu saja. (Ilmu Kedokteran: untuk menyembuhkan atau menyehatkan orang yang sakit, Ilmu Pendidikan: untuk mendewasakan secara etis anak yang belum dewasa).
c. Ruang Lingkup Ilmu
1. Ilmu-Ilmu Alam (natural sciences, natuurwetenschapten): yang mempelajari barang-barang menurut keadaannya dialam kodrat saja, terlepas dari pengaruh manusia, dan mencari hukum-hukum yang mengatur apa yang terjadi di dalam alam, jadi terperinci lagi menurut objeknya, misalnya: ilmu alam, ilmu fisika, ilmu kimia, ilmu hayat, dan sebagainya.
2. Ilmu Pasti (Mathematics), yang memandang barang-barang, terlepas dari isinya, hanya menurut besarnya. Jadi, mengadakan abstraksi barang-barang itu. Ilmunya dijabarkan logis, berpangkal pada beberapa asas-asas dasar (axioma), misalnya: ilmu pasti, ilmu ukur, ilmu hitung, ilmu aljabar, dan sebagainya.
3. Ilmu-ilmu kerohanian/kebudayaan (Geisteswissenschaften/ social-sciences). Ilmu yang mempelajari hal-hal dimana manusia memegang peranan yang menentukan. Yang dipandang bukan barang-barang seperti di alam dunia, terlepas dari manusia, melainkan justru sekadar mengalami pengaruh dari manusia. Misalnya: ilmu sejarah, ilmu mendidik, ilmu hukum, ilmu ekonomi, ilmu sosiologi, ilmu bahasa, dan sebagainya.
d. Aspek-Aspek Yang Dikaji Ilmu
1) Ilmu (sains) Kealaman
• Astronomi;
• Fisika: mekanika,bunyi, cahaya dan optic, fisika nuklir;
• Kimia: kimia organic, kimia teknik;
• Ilmu Bumi: paleontology, ekologi, geofisika, geokimia,mineralogy, geografi;
• Ilmu hayat: biofisika, botani, zoology
2) Ilmu (sains) Sosial
• Sosiologi: sosiologi komunikasi, sosiologi politik, sosiologi pendidikan;
• Antropologi: antropologi budaya, antropologi ekonomi, antropologi politik;
• Psikologi: psikologi pendidikan, psikologi anak, psikologi abnormal;
• Ekonomi: ekonomi makro, ekonomi lingkungan, ekonomi pedesaan;
• Politik: politik dalam negri, polotik hukum, politik internasianal
3) Humaniora
• Seni: seni abstrak, seni grafika, seni pahat, seni tari;
• Hukum: hukum pidana, hukum tata usaha Negara, hukum adat;
• Filsafat: logika, ethika, estetika;
• Bahasa: sastra;
• Agama: Islam, Kristen, Hindu
• Sejarah: sejarah Indonesia, sejarah dunia
2. Epistemologi Ilmu
Ilmu atau Sains diperoleh melalui metode sains (scientific method) atau biasa diterjemahkan menjadi metode ilmiah. Metode ini menggabungkan keunggulan rasionalisme dan empirisisme, kekuatan logika deduksi dan induksi, serta mencakup teori kebenaran korespondensi, koherensi, dan pragmatik. Karena penggabungan ini, sains memenuhi sifat rasional sekaligus empiris. Sains juga bersifat sistematis karena disusun dan diperoleh lewat suatu metode yang jelas. Bagi kaum positivis, sains juga bersifat objektif, artinya berlaku di semua tempat dan bagi setiap pengamat. Namun sejak munculnya teori relativitas Einstein, apalagi pada masa postmodern ini, klaim objektivitas sains tidak bisa lagi dipertahankan. Secara ringkas, metode ilmiah disusun menurut urutan sebagai berikut:
• Menemukan dan merumuskan masalah
• Menyusun kerangka teoritis
• Membuat hipotesis
• Menguji hipotesis dengan percobaan (observasi, eksperimen, dll).
• Menarik kesimpulan.
Kesimpulan yang diperoleh itu disebut teori. Untuk benar-benar dianggap sahih dan bisa bertahan, sebuah teori harus diuji lagi berkali-kali dalam serangkaian percobaan, baik oleh penemunya maupun oleh ilmuwan lain. Pengujian ini disebut verifikasi (pembuktian benar).
Namun dalam sebuah teori, sebetulnya yang lebih penting bukanlah ketiadaan salah sama sekali, karena itu sangat berat bahkan tidak mungkin untuk teori ilmu sosial, namun seberapa besar kemungkinan teori itu benar (probabilitas). Probabilitas benar 95 persen dianggap sudah cukup untuk men-sahihkan sebuah teori dan memakainya untuk memecahkan masalah.
3. Aksiologi Ilmu
a. Fungsi Ilmu
Sebelumnya kita telah berbicara mengenai bagaimana perbedaan ilmu dan pseudo ilmu dilihat dari karakter objek penelitiannya. Berikutnya kita akan membicarakan apa sebenarnya fungsi dan kegunaan pegetahuan. Argumen-argumen yang dikemukakan dalam pengetahuan kemudian menjadi satu bentuk konsep yang terangkum dalam sebuah teori. Menurut Ahmad Tafsir, teori mempunyai tiga fungsi dilihat dari kegunaan teori tersebut dalam menyelesaikan masalah.
1. Pertama, Teori sebagai alat Eksplanasi. Dalam fungsi ini teori berusaha menjelaskan melalui gejala-gejala yang timbul dalam satu permasalahan. Misalnya: tragedi 11 september yang memakan banyak korban dan kerugian secara materiil. Hal ini dipahami sebagai bentuk perlawanan terhadap keangkuhan sebuah negara Adi Kuasa. Gejalanya dapat kita lihat dari maraknya beberapa kelompok yang menamakan dirinya sebagai kelompok anti Amerika. Al-Qaeda misalnya, sebuah oraganisasi rahasia yang menjadi symbol perlawanan terhadap Amerika.
2. Kedua, Teori sebagai alat Peramal. Dalam fungsi ini teori memberikan benuk prediksi-prediksi yang dilakukan oleh para ilmuwan dalan menyelesaikan suatu masalah. Misalnya: isu global warming. Digambarkan dalam kasus ini bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata disatu sisi memberikan dampak buruk terhadap ekosistem alam. Prediksi yang dilakukan oleh para ilmuwan yang menggambakan tentang keseimbangan alam yang rusak oleh perilaku manusia itu sendiri.
3. Ketiga, Teori sebagai Alat pengontrol. Dalam fungsi ini ilmuwan selain mampu membuat ramalan berdasarkan eksplanasi gejala, juga dapat membuat kontrol terhadap masalah yang terjadi. Kita bisa melihat dari solusi yang ditawarkan oleh para ilmuwan.
Teknologi
1. Ontologi Teknologi
a. Pengertian Teknologi
Teknologi adalah penggunaan yang efisien dari ilmu, keterampilan, dan bahan untuk memproduksi benda-benda kebudayaan. Kata teknologi sering menggambarkan penemuan dan alat yang menggunakan prinsip dan proses penemuan saintifik yang baru ditemukan.
b. Objek kajian Teknologi
Objek kajian teknologi adalah cara ataupun benda-benda yang bersifat materi saja yang dikatakan dapat membantu kerja tangan manusia atau berguna bagi perbaikan taraf hidup manusia.
c. Ruang Lingkup Teknologi
1. Ruang Lingkup Materi
Ruang lingkup materi yang terwujud dalam benda-benda yang nyata dan digunakan untuk membantu pekerjaan manusia.
2. Ruang Lingkup Non-materi
Ruang lingkup non-materi meliputi konsep, ide, gagasan, cita-cita, norma, dan sebagainya. Dalam benda-benda non-materi, perananbenda-benda intrumen seperti isyarat dan simbol sangatlah penting. Bahasa merupakan suatu system dari simbol.
c. Aspek-Aspek yang dipelajari Teknologi
Cabang-cabang teknologi masa kini:
1. Bioteknologi,
2. Mikroteknologi,
3. Nanoteknologi,
4. Rekayasa biomedis,
5. Rekayasa listrik,
6. Rekayasa lalu lintas,
7. Teknologi Industri,
8. Teknologi Instrumentasi,
9. Teknologi komputer,
10. Teknologi nuklir,
11. Teknologi penyimpanan energi
12. Teknologi permesinan,
13. Teknologi persenjataan,
14. Teknologi telekomunikasi,
15. Teknologi tepat guna,
16. Teknologi transportasi,
17. Teknologi bahan, dll.
2. Epistimologi Teknologi
Lahirnya sebuah teknologi diawali dengan proses berpikir tentang sesuatu yang ingin diciptakan untuk sebuah pemanfaatan yang dapat diambil. Dalam teknologi kerja sama antara pikiran dan kerja tangan merupakan alat yang efektif untuk untuk memproduksi barang.
Teknologi dibuat atas dasar ilmu pengetahuan dengan tujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Dengan pemahaman ini maka pendekatan terhadap teknologi Indonesia dapat dikerjakan dengan beberapa pendekatan sebagai berikut:
1. YangPertama: teknologi bukanlah masalah kapitalisme atau sosialisme atau pancasialisme, melainkan adalah masalah globalisme.
2. Kedua: teknologi bukanlah asosiasi Barat-Timur atau negara maju dan negara
berkembang (belum maju). Melainkan adalah kontritisasi dari perwujudan cara berada manusia mulai dari timur sampai ke Barat.
3. ketiga teknologi harus ditanggapi dengan sikap yang kritis.
3. Aksiologi Teknologi
Manfaat teknologi bagi kehidupan manusia:
1) Manfaat Teknologi Terhadap Kebutuhan Pokok Manusia.
a) Pangan (makanan)
b) Sandang (pakaian)
c) Papan (Tempat Tinggal)
2) Manfaat Terhadap Pendayagunaan SDA
a) Dalam bidang pertanian
b) Dalam bidang industri
3) Manfaat Teknologi Terhadap SDM.
a) Perkembangan teknologi dapat mendorong manusia untuk mendayagunakan SDA secara lebih efektif dan efisien.
b) Perkembangan teknologi dapat menaikan kualitas SDM (keterampilan dan kecerdasan manusia),
c) Tekanan, kompetisi yang tajam di berbagai aspek kehidupan sebagai konsekuensi globalisasi, akan melahirkan generasi yang disiplin, tekun dan pekerja keras.
4) Manfaat Terhadap Komunikasi dan Transportasi.
5) Manfaat Teknologi Terhadap Peningkatan Kesehatan.
a. Meningkatkan Ilmu dan Fasilitas di Bidang Kedokteran.
b. Meningkatkan Teknologi Obat-Obatan.
c. Dapat memberantas penyakit menular.
6) Manfaat Teknologi di Bidang Pendidikan
a) Munculnya media massa
b) Munculnya metode-metode pembelajaran yang baru
c) Sistem pembelajaran tidak harus melalui tatap muka, tetapi bisa juga menggunakan jasa pos internet dan lain-lain.
7) Manfaat Teknologi Terhadap Pencapaian Kemakmuran
a) Mendatangkan kemakmuran materi
b) Dapat mendatangkan kemudahan hidup.
B. Hubungan Antara Filsafat, Pengetahuan, Ilmu, dan Teknologi.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa berfilsafat adalah titik tolak dari diperolehnya ilmu pengetahuan. Bisa diibaratkan bahwa berfilsafat adalah cikal bakal dari pengetahuan lalu ilmu dan sebagai aplikasi praktis dari ilmu pengetahuan itu sendiri yaitu teknologi.
Saat seseorang berfilsafat tentang suatu masalah yang ingin ia pecahkan maka ia akan mulai mengidentifikasi suatu masalah dengan panca indranya lalu mencernanya dengan akan dan di bantu dengan intuisi nya atau hatinya. Meskipun belum sempurna karena belum diketahui hakikat sebenarnya tentang masalah tersebut,masih berbentuk hipotesis-hipotesis hal tersebut kemudian kita kenal sebagai Pengetahuan.
Setelah tercipta sebuah pengetahuan yang masih belum dapat ditemukan kebenarannya maka fenomena tersebut di olah dengan menggunakan cara atau sistematis yang ilmiah dengan tahap-tahap sebagai berikut:
1. merumuskan masalah
2. Menyusun kerangka teoris
3. Membuat Hipotesis
4. Menguji Hipotesis dengan percobaan (observasi, eksperimen dll)
5. Menarik Kesimpulan
Hasil akhir dari sebuah penelitian terhadap pengetahuan di atas itulah yang disebut Ilmu. Ilmu telah teruji secara ilmiah dan memiliki sifat- sifat sebuah ilmu antara lain bersifat empiris dan rasional. Dalam perkembangannya ilmu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Baik secara teoritis maupun praktisnya. Secara teoritis ilmu mampu memberikan pemahaman dan dijadikan pedoman oleh manusia dalam menjalani aktifitas hidupnya yang lebih baik. Dalam aplikasi praktisnya,ilmu terwujud dalam bentukkan benda atau cara yang dibuat oleh tangan-tangan manusia guna mempermudah hidup mereka. Hal ini lah yang kemudian di kenal dengan istilah Teknologi. Contoh teknologi praktis: pakaian, rumah, mesin-mesin, kendaraan dll.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Ilmu menghasilkan teknologi yang akan diterapkan pada masyarakat. Teknologi dalam penerapannya dapat menjadi berkah dan penyelamat bagi manusia, tetapi juga bisa menjadi bencana bagi manusia. Disinilah pemanfaatan pengetahuan dan teknologi harus diperharikan sebaik-baiknya. Dalam filsafati penerapan teknologi meninjaunya dari segi aksiologi keilmuwan.
Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Perkembangan teknologi memang sangat diperlukan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Memberikan banyak kemudahan serta sebagai cara baru dalam melakukan aktivitas manusia. Khusus dalam bidang teknologi masyarakat sudah menikmati banyak manfaat yang dibawa oleh inovasi-inovasi yang telah dihasilkan dalam dekade terakhir ini, di antaranya dalam hal pemenuhan kebutuhan pokok manusia, pendayagunaan SDA, kemudahan dalam komunikasi dan transportasi, peningkatan fasilitas pelayanan kesehatan dan teknologi obat-obatan, bidang pendidikan dan pencapaian kemakmuran kehidupan manusia.
Agama mengarahkan ilmu pengetahuan pada tujuan hakikinya. Al-qur’an mengembalikan ilmu pengetahuan yang terikat dengan nilai dengan cara mengembalikan ilmu pengetahuan pada jalur semestinya, sehingga ia menjadi berkag dan rahmat bukan sebaliknya membawa mudharat.
DAFTAR PUSTAKA
Drs. Salam Baharuddin, M.M. 2000. SEJARAH FILSAFAT ILMU dan TEKNOLOGI. Rineka Cipta: Jakarta.
Hendrik Jan R. 1995. PENGANTAR FILSAFAT. Pustaka Filsafat: Yogyakarta.
Prof. Dr. Tafsir Ahmad. 2007. Filsafat Ilmu. PT Remaja Rosdakarya: Bandung.
http://adikke3ku.wordpress.com/2008/05/19/aksiologi-ilmu/
http://bermenschool.wordpress.com/2008/12/04/epistemologi-filsafat-pengetahuan/
http://holistic1610.wordpress.com/2009/07/25/pengetahuan-filsafat/
http://freedom26.wordpress.com/2008/06/24/cabang-teknologi-masa-kini/
http://giotugi.blogspot.com/2008/12/bab-i-pendahuluan-kita-ketahui-bahwa.html
Senin, 22 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar